Sabtu, 12 Mei 2012

Dzikrullah

DZIKIRULLOH


DZIKIR SEBAGAI ALAT MENYAPI NAFSU
Seorang Ibu menyapi anak, salah satunya agar ia bisa mandiri dalam berbagai hal, begitu pula dg dzikir adalah sebagai alat agar tidak bergantung dari nafsu sehingga Ruhaninya bisa mandiri tanpa ketergantungan dari nafsu kita.

Dg demikian Ruhani tidak selalu bergantung pd nafsu, sebab ia telah didik untuk bisa mandiri.

Kita ini ibarat anak kecil yg tidak mau berpisah dg Ibunya, Ia inginya selalu dekat dg Ibunya. Sebentar saja sang Ibu tidak ada didepan anak trsbut, maka ia akan menangis.

Dg berdzikir kita dibelajari, dikenalkan, dan diberi pemahaman agar Ruhani mengerti Asal-usul serta Pengasuhnya ( Mursyid )

Dg berdzikir kita yg terbiasa digandeng oleh nafsu sebagai Inang ( Pengasuhnya ) diambil alih pengasuhnya oleh seorang Mursyid.

Sehingga kita selalu dijaga, diayomi, diasuh, disuapi, dibelajari, dididik dllnya. Dan suatu saat Pengasuh ( Mursyid ) akan menyapimu...

Apakah kita tetap mengenali Pengasuh kita ? atau kita akan melupakannya...Na'udzubillah.




Laa ilaaha illallalloh

!. Laa ilaaha...
Itu sifatnya Maha tiada kekurangan yaitu Alloh
2. illalloh
Itu sifatnya kekurangan yg masih berkehendak yaitu Muhammad.

Maka jika demikian dapat diketahui pula apa yg bernama Muhammad oleh Alloh Ta'ala dan Apa yg bernama Alloh oleh Muhammad...agar supaya menjadi tauhid pada kalimat yg mulia itu.

Adapun rahasianya oleh Alloh Swt....Karena Alloh itu nama bagi dzat wajibul wujud dan mutlaq yaitu bathin Muhammad dan Alloh itu nama bagi sifat dzahir Muhammad...Jadi dzhohir dab bathin Muhammad itulah yg bernama Alloh. Sebab kalimat ini merupakan pertemuan antara hamba dan Tuhannya dan kalimat yg mulia ini diumpamakan sebesar gunung, tempat perhimpunan segala rahasia dan ruh, nyawa dan segala hati, tubuh, nama, ilmu, dan segala isi-isinya.

Jadi hakikatnya yg mengucapkan kalimat yg mulia tersebut adalah Dia sendiri, memuji diriNya sendiri>

Layasrifullohu illalloh...tiada mengenal Alloh hanya Alloh.
 
NILAI DZIKIR

Dzikir itu memiliki nilai yg lebih besar dari pada segala amal ibadah, karena nilai dzikir sangat penting (utama) bagi kehidupan, terutama bagi orang2 yg beriman yg diseru untuk melakukan dzikir yg sebanyak-banyaknya.

Pernyataan sebanyak-banyaknya tidak dapat diukur berdasarkan kekuatan orang2 tertentu. Sebanyak2nya berarti bergantung pada kemampuan orangnya, tetapi yg jelas tidak ada batasnya, kapan saja, dimana saja, dalam keadaan apa saja, bila mampu mengamalkan dzikir, justru menunjukan keunggulannya.

INGAT !!!Dalam sembayang harus ada dzikir. Mengamalkan dzikir itu tidak mudah, padahal itu solusi awal bagi manusia. Karena itu sholat diberi bentuk secara lahiriyyah, sholat diinstitusikan dan ditentukan waktunya. Manusia diikat dg kedisiplinan untuk mengamalkannya dan dzikir tidak efektif bila badan tidak sehat atau tidak segar...maka bagian-bagian tubuh tertentu yg menjadi pokok kesegaran harus dicuci. Itulah sebabnya sebelum sholat diisyaratkan berwudhu. Dan berwudhu bukan semata2 membersihkan bagian2 anggota tubuh tertentu, karena itulah berwudhu harus disertai dg niat.
 
FUNGSI DZIKIR
 WA LADZIKRULLOHI AKBAR ( Dzikrulloh itu adalah pekerjaan yg Agung )

Untuk hidup didunia ini ada pendukung selain Roh, yaitu DZIKRULLOH atau disebut juga Ma'ul Hayat, Air Kehidupan, Tirta Nirmala atau Banyu Prawita Suci.   Jika Dzikrulloh ini mengalir keseluruh tubuh baik manusia ataupun makhluk hidup lainnya, baik yg ghoib maupun yg lahir, ia tidak akan mudah busuk bahkan mampu membuat HIDUP LEBIH HIDUP karena adanya daya keampuhan dan kekuatan yg luar biasa dari Yang Maha Agung dari Guru Agung itulah DZIKRULLOH.


Setiap yg kita anggap masalah akan diatasi dg mulus tanpa kesulitan. Ada empat tempat dalam diri manusia yg ditempati oleh Dzikrulloh yaitu : JASAD, QOLBU, RUH DAN NUR MUHAMMAD tetapi karena ke-ego-an kita semua itu hanya sebagai barang rongsokan, Na'udzubillah....dzolim dzolim dzolim.  
 


1. DZIKRULLOH DALAM JASAD


Dzikrulloh dalam raga ini sangat berpengaruh kepada kesehatan manusia. Ketika manusia mau mengamalkan dzikir lisan, maka pengaruhnya berupa meningkatnya kekebalan tubuh, kokohnya daya tahan semakin cepatnya daya sembuh, semakin kuatnya daya tangkap pikiran dan daya pikir.


Pengaruh itu akan semakin lebih kuat lagi apabila dzikir dikembangkan keseluruh anggota tubuh lahir dan wilayah anggota tubuh batin. Dengan melakukan Dzikir maka musnahlah sifat2 jelek dan munculah sifat2 baik.  
 

Kenapa Dzikrulloh itu bisa merasakan hidup lebih hidup.


1. Jika Dzikrulloh mengalir ke OTAK, maka cara berpikir kita akan lebih matang.

2. Jika Dzikrulloh mengalir di MULUT, maka kita dapat berbicara dg fasih, ketika mengajak kejalan kebaikan dan merasakan nikmat serta rasa syukur atas pemberian Alloh.
3. Jika Dzikrulloh mengalir di TELINGA, maka kita dp mendengar serta memilih yg baik dan buruk.
4. Jika Dzikrulloh mengalir ke KULIT, kita dapat merasa
5. Jika Dzikrulloh mengalir ke MATA, kita dp melihat mana sebenarnya yg harus dilihat.
6. Jika Dzikrulloh mengalir di HIDUNG, kita dapat bernafas   Bernapas adlh kodrat sedangkan kodrat HIDUP adalah mengamalkan DZIKRULLOH sebagai tugas kehidupan yg dari Maha Agungdari Guru Agung. Berbahagialah orang yg sudah menghidupkan raganya dengan dzikrulloh, dengan demikian Ia meneteskan DZiKRULLOH lebih deras dan memancarkannya keseluruh tubuh lahir dan batin serta selalu bertaqwa kepada Alloh Swt.   


2. DZIKRULLOH PADA QOLBU


BIla hati ( qolbu ) sudah berdzikir maka hiduplah hati. Dzikrulloh ini dapat menghidupkan hati serta membuka pintu2 ilmu yg bermanfaat didunia dan akherat, juga membuka pintu Ilham yg datang dari Alloh Swt.  Dzikrulloh dalam hati mengubah dari CAHAYA IMAN MANJADI CAHAYA KETAKWAAN, dari cahaya penerima ilmu menjadi penyampai ilmu.


Ada beberapa pengaruh Dziktulloh didalam qolbu:

1. Jika orang yg semula sulit menerima ilmu menjadi mudah dalam menerima ilmu
2. Jika orang sulit menyebarkan ilmu, maka menjadi mudah dalam menyampaikan atau menyebarkannya
3. Jika semula hanya menerima ilmu jadi suka memberikan ilmu walau hanya satu kalimat
4.Yang semula tertutup pd ilmu manjadi terbuka terhadapnya
5. Yang semula sulit menerima ilham menjadi mudah menerimanya dllnya.

Perubahan-perubahan itu terjadi karena adanya dzikrulloh yg dp menghidupkan pancaran cahaya qolbu. Terpancarnya cahaya qolbu ini dan tersingkapnya kotoran qolbu memudahkan kita dalam menangkap sinyal-sinyal Ketuhanan, sehingga kita dimudahkan diberi petunjuk atau hidayah sebagaimana yg tertulis dialam
Alqur'an Surat At-Taghabun ayat 11 ( Tidak ada suatu musibah pun yg menimpa seseorang kecuali dg ijin Alloh; dan barangsiapa yg beriman kepd Alloh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu )   


3. DZIKRULLOH DALAM RUH


Harus dilandasi dengan dzikir lisan dan qolbu, sehingga berkembanglah dan memancar sampai terdengar oleh ruh. Maka ruh akan meyaksikan sifat-sifat ilahiyyah.   Ketika dzikir telah sampai ke ruh, barulah Dzikrilloh dalam ruh mempengaruhi proses penyucian ruh agar kembali fitrah seperti pd saat ia dilahirkan kedunia. Ruh kembali fitrah berdampak pd qolbu.


Setelah kesucian qolbu mempengaruhi semua organ2 , qolbu tersucikan karena-Nya, lalu merambat keluarkearah Dzikrulloh yg ada di dalam jasad. Dzikr dalam ruh dapat membuka pancaran dzikrulloh kesumua organ tubuh, baik lahir maupun batin. ini terimplisit didalam
QS Al-Insan ayat 6 " (yaitu) mata air ( dalam surga )yg dari pdnya hamba2 Alloh minum, yg mereka dp mengalirkannya dg sebaik-baiknya."

Pd tahapan dzikir ruh, Ruh sering mendapatkan ilham khusus untuk perjalannya. Ruh berhablum-minalloh sehingga sebagian ruh pun ditampakkan.  
 


4. DZIKRULLOH PADA NUR MUHAMMAD


Dzikrulloh pd Nur Muhammad ini berfungsi hanya menunggu kedatangan dzikrulloh yg ada didalam ruh. Ruh dijemput oleh hakikat Nur Muhammad setelah jiwa dan raga disucikan melalui dukungan dzikir raga dan dzikir qolbu. Setelah dijemput ruh diantar oleh Nur Muhammad untuk menghadap-Nya. Inilah fungsi dzikrulloh yg dibawa oleh Mursyid kamil mukamil.

 
MENURUT SYECH KALIMULLOH:

1. Ketika qolbu-nya mengumandangkan ( Allohu Allohu Alloh ) yg ditanam oleh seorang Wali Mursyid. Pd tahap pertama ia seakan-akan tidak mendengarkan, tetapi lama kelamaan ia akan mendengarkannya lewat telinga hati...memang susah kalau tidak istiqomah.

Baru Sang Salik akan merasakan ada sedikit gerakan didalam hatinya, ia akan bingung. Apakah ini gerakan napas, jantung atau angan-angan (imajinasi). Nah disinilah pentingnya tafakur pd setiap malam dg istiqomah, agar gerakan ini dapat didengar dan sifat keraguan yg demikian itu bakal hilang. Hilangnya keraguan dan timbulnya keyakinan didalam hati adalah berhentinya Ilmu yaqin ( ilmu yg di dapat dari usia baligh/secara formalitas ) menginjak ke Ainul Yaqin.
 
Sehingga keyakinan ini akan timbul, ia akan merasa yakin dan pasti, bahwa hati itulah yg berdebar dan mengumamkan ALLOH....menjadi aktif dan inilah anugerah dari Yang Maha Agung dari Guru Agung dari Kalimat Agung.
 
2. Manakala Sang Dzakir telah mencapai tahap ini, ia mestilah memelihara dan mendengarkan gerakan ini, baik ketika sedang bersama orang lain ataupun sendiri...( latih dan latih kebiasaan ini pasti bisa menjadi suatu kebiasaan, karena hukum kebiasaan adalah hasil dari kebiasaan itu sendiri ).Ia harus banyak diam, berusaha memeliharanya serta menjaganya agar terus bergerak, Sebab mula-mula gerakan ini sangat lemah dan hambatan kecil saja bisa menghentikannya.

Ini Anugerah dari Yang Maha Agung dari Guru Agung , ia tidak boleh meremehkannya ( Ntar kena Adzab ), serta berusaha siang malam menjaga dan mengembangkannya. Sekarang bukalah mata zahirmu dan nikmati keadaan mistis ini, sampai akhirnya ia mengembangkan kemampuan itu. 
Bahkan ketika membuka mata zahirnya, ia bisa memperhatikan hatinya yg bergumam. Menurut Syech Kalimulloh keadaan inilah yg disebut " Khilwat dar Anjuman " ( kemampuan menikmati kesendirian meskipun sedang bersama orang banyak ) Subhanalloh...dzolim saya ini.

‎3. Ketika Sang Dzakir mencapai tahap bahwa sang dzakir mulai mendengar Nama ALLOH... ( Ismu Dzat/Asma Alloh ) yg penuh berkah dari lidah hatinya, dan mengetahui bahwa gerakan ini muncul dari dalam hati, maka gerakan ini bisa disebarkan keseluruh tubuh atau seluruh anggota badan lainnya ( warning harus seizin Guru Mursyid/Wakil Talqin ).

Demikianlah gerakan ini timbul pertama kali dalam sebuah anggota tubuh sang Hamba : kadang2 ditangan, dikepala, dan kadang-kadang dikaki, sekalipun sang hamba sama sekali tidak sengaja menggerakan bagian anggota tubuh itu serta hanya berkosentrasi hanya pd hati saja. Ketika cahaya dzikir mulai menyebar, maka cahaya ini pun menyelimuti seluruh tubuh dalam waktu sangat singkat, dan tubuh sang hamba dari ujung kepala hingga ujung kaki...dipenuhi dzikir.

Pd tahap ini berbagai keadaan mistis pun dialami, terkadang ia merasa bahagia, terkadang kesal dan bingung. Hanya saja sang hamba mestilah berusaha untuk tidak memperhatikan keadaan2 ini. Ia mestinya terus menerus berdzikirIa mesti terus-menerus melakukan dzikir, yg merupakan tugas pentingnya. Dengan Karomah dan berkah Sang Mursyid yg Kamil Mukamil, dzikir Nama ALLOH pun memancar dari seluruh tubuhnya dan segenap anggota tubuhnya berjalan selaras dg hati. 
Dalam keadaan seperti ini dominasi dzikir bisa lebih besar pd satu bagian anggota tubuh dan lebih kecil pd anggota tubuh lainnya. Jika hal ini tersebar merata dalam seluruh tubuh, Maka sang dzakir merasa sangat gembira dan bahagia. Dalam terminologi kaum Sufi keadaan yg demikian disebut SULTHAN ADZ-DZIKIR.

4. Pd tahap ini, Syech Kalimulloh mengingatkan kita perihal prinsip para sufi besar bahwa tujuan dzikir adalah kefanaan diri dalam dzat Maha Benar yg diingat, dan bukan kefanaan atas nama Dzat Maha Besar yg diingat, Karena itu Sang hamba hendaknya tidak memusatkan perhatiannya pd sekedar mengucapkan kata ALLOH saja, entah kata ini diucapkan oleh lidah atau oleh hati.

Meskipun yg mengamalkan yg demikian ini sangat bermanfaat dan seseorang memperoleh pahala, tak urungtanpa merasakan kehadiran Dzat Maha Benar yg diingat, dzikir ini tidak akan membimbing dan mengantarkan pd kehadiran Dzat Yang Maha Benar yg tengah dicari. 
Karena tujuaan dzikir itu adalah " Fana Fi Alloh " atau kefanaan diri dalam kehariban Dzat Yang Maha Benar dan bukan yg menempel pada Namanya...Disinilah tahap itu yg sangat sulit dan membingungkan, oleh karena itu Sang Dzakir harus selalu dibawah bimbingan seorang Mursyid/Wakil Talqin...Untuk membedakan antara Yang Maha Benar, Yang Maha Agung, Yang Maha Esa ( Tunggal ) dan lain-lainya...karena itu masih menempel pd sebuah nama...Pahamkanlah. Untuk masuk pd hakikat yg dikandung Sebuah nama itu, perlu dibongkar oleh orang yg kamil mukamil.

5. Ketika Sang hamba sampai pd tahap Sulthan Adz-Dzikir. kadang2 terjadi bahwa ia merasakan ada gerakan dalam nadi dan hatinya, yg sifatnya berbeda dari gerakan pertama. 
Misal gerakan yg dihasilkan oleh dzikir tidaklah bersifat terus menerus, sementara gerakan baru ini bersifat terus-menerus. Dalam ungkapan lain,Gerakan pertama menyerupai hu hu hu hu atau Alohu Alloh...yg disitu ada jedanya. Sementara gerakan yg kedua menyerupai " HU " yg dipanjangkan. ( lagi-lagi ini perlu dikonsultasikan dg Sang Mursyidnya ). Dg kata lain gerakan pertama tidak teratur, sementara gerakan kedua bersifat terus menerus.

Gerakan kedua lebih halus ketimbang gerakan pertama dan bisa dirasakan sesudah banyak melakukan amalan. Disinilah penyakit keragu-raguan itu timbul, Apakah yg diingat adalah sebuah nama saja ataukah Nama itu adalah Yang Maha Benar. Disinilah posisi " La bi syarth asy-syay (tanpa syarat apapun). Hanya saja apapun yg dirasakan oleh Sang hamba melalui gerakan yg kedua adalah sepenuhnya termasuk dalam dunia jasmani, dan berkenan dg tahap " bi syarth al-la syay ". 
Lantas bagaimana ini bisa diidentifikasikan dg Dzat Yang Maha Benar yg diingat atau yg dicari...yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa? Disinilah wilayah yg tidak bisa ditulis...hanya limpahan dari Mursyidlah yg dapat membongkarnya.‎

6. Gerakan yg terus menerus ini dirasakan oleh sang hamba, sebagian orang merasakan menyebar keseluruh tubuh, dan sebagian lagi merasakannya pd anggota tertentu. Perasaan ini mengarahkan perhatiannya kepada Dzat Yg Maha Benar yg dicari. 
Kalau belum bisa, maka kosentrasi diarahkan pd hati jasmani tanpa menyebut2 nama Alloh. Sekiranya setelah itu perhatian tidak juga terarah pd Dzat Maha Benar yg dicari, maka perhatian mestilah dicamkan kepadanya dg mengambil nama Alloh. 
Akan tetapi, mesti perhatian kepada Nama saja tanpa memikitkan Dzat Maha Benar yg dinamai ( ALLOH ) sangat berbahaya lantaran mampu menaklukan tujuan hakiki. Cukup sampai disini...karena pengetahuan diatas sudah sangat membingungkan bagi para pemula. Sekali lagi, dekatilah orang yg bisa bergaul bersama Alloh, karena ia akan menghantarkan kita pd tujuan yg Hakiki.
 
 
DZIKIR KHOFI
Rasulullah saw bersabda, “Wahai Abu Dzarr! Berzikirlah kepada Allah dengan zikir khamilan!”, Abu Dzarr bertanya: “Apa itu khamilan?”
Sabda Rasul: “Khafi (dalam hati)” (Mizan al-Hikmah 3: 435)

TAHAP pertama zikir adalah zikir lisan. Kemudian zikir kalbu yang cenderung diupayakan dan dipaksakan. Selanjutnya, zikir kalbu yang berlangsung secara lugas, tanpa perlu dipaksakan. Serta yang terakhir adalah ketika Allah sudah berkuasa di dalam kalbu disertai sirnanya zikir itu sendiri. Inilah rahasia dari sabda Nabi saw: ” Siapa ingin bersenang – senang di taman surga, perbanyaklah mengingat Allah”.

TANDA bahwa sebuah zikir sampai pada sirr (nurani yang terdalam yang menjadi tempat cahaya penyaksian) adalah ketika pelaku zikir dan objek zikirnya lenyap tersembunyi. Zikir Sirr terwujud ketika seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya. Tandanya, apabila engkau meninggalkan zikir tersebut, ia takkan meninggalkanmu.

Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhur (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah–olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup.

Namun, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala. Zikir yang masuk ke dalam sirr terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir seolah–olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.

KETAHUILAH, setiap zikir yang disadari oleh kalbumu didengar oleh para malaikat penjaga. Sebab, perasaan mereka beserta perasaanmu. Di dalamnya ada sirr sampai saat zikirmu sudah gaib dari perasaanmu karena engkau sudah sirna bersama Tuhan, zikirmu juga gaib dari perasaan mereka.

Kesimpulannya, berzikir dengan ungkapan kata–kata tanpa rasa hudhur (kehadiran hati) disebut zikir lisan, berzikir dengan merasakan kehadiran kalbu bersama Allah disebut zikir kalbu, sementara berzikir tanpa menyadari kehadiran segala sesuatu selain Allah disebut Zikir Sirr. Itulah yang disebut dengan Zikir Khafiy.

Allah SWT berfirman: “Dan berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu (nafsika) dengan merendahkan dirimu dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai” (QS. 7: 205)

REZEKI lahiriah terwujud dengan gerakan badan, rezeki batiniah terwujud dengan gerakan kalbu, rezeki sirr terwujud dengan diam, sementara rezeki akal terwujud dengan fana dari diam sehingga seorang hamba tinggal dengan tenang untuk Allah dan bersama Allah.

Nutrisi dan makanan bukanlah konsumsi rohani, melainkan komsumsi badan. Adapun yang menjadi konsumsi rohani dan kalbu adalah mengingat Allah Zat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.

Allah SWT berfirman, “Orang–orang beriman dan kalbu mereka tenteram dengan mengingat (zikir kepada) Allah.”

Semua makhluk yang mendengarmu sebenarnya juga ikut berzikir bersamamu. Sebab, engkau berzikir dengan lisanmu, lalu dengan kalbumu, kemudian dengan nafs–mu , kemudian dengan rohmu, selanjutnya dengan akalmu, dan setelah itu dengan sirmu.

Bila engkau berzikir dengan lisan, pada saat yang sama semua benda mati akan berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan kalbu, pada saat yang sama alam beserta isinya ikut berzikir bersama kalbumu. Bila engkau berzikir dengan nafs–mu, pada saat yang sama seluruh langit beserta isinya juga turut berzikir bersamamu.

Bila engkau berzikir dengan rohmu, pada saat yang sama singgasana Allah (’Arsy) beserta seluruh isinya ikut berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan akalmu, para malaikat pembawa Arsy dan roh orang–orang yang memiliki kedekatan dengan Allah juga ikut berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan sirmu, Arsy beserta seluruh isinya turut berzikir hingga zikir tersebut bersambung dengan zat–Nya.

Imam al-Baqir dan Imam ash-Shadiq as berkata: “Para malaikat tidak mencatat amal shalih seseorangkecuali apa-apa yang didengarnya, maka ketika Allah berfirman: “Berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu (nafsika)”, tidak ada seorangpun yang tahu seberapa besar pahala zikir di dalam hati dari seorang hamba-Nya kecuali Allah Ta’ala sendiri”.

DI DALAM riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Zikir diam (khafiy) 70 kali lebih utama daripada zikir yang terdengar oleh para malaikat pencatat amal. “ (Al-Hadits)

Bila sang hamba mampu melanggengkan Zikir Khafi serta meyakini bahwa semua Alam Lahir dan Alam Batin merupakan pengejewantahan dari nama-nama-Nya maka ia akan merasakan kehadiran-Nya di semua tempat dan merasakan pengawasan-Nya dan jutaan nikmat-nikmat-Nya.

Perasaan akan kehadiran-Nya ini akan mencegah sang hamba dari berbuat dosa dan maksiat. Jika di hadapan anak yang sudah akil baligh saja manusia malu untuk berbuat dosa dan membuka auratnya, maka bagaimana ia tidak malu untuk membuka auratnya dihadapan Sang Khaliq?

Mengapa kita tidak merasa sungkan dan malu berbuat hal-hal yang tidak layak di hadapan Sang Khaliq? Itu karena keyakinan kita atas kehadiran-Nya di setiap eksistensi tidak sebagaimana keyakinan kita ketika kita melihat kehadiran sang anak yang akil baligh tersebut.

Apabila kita ingin mencapai keyakinan seperti ini kita mesti mempersiapkan latihan-latihan untuk melaksanakan Zikir Khafi sampai pada suatu tahapan di mana hati kita berzikir secara otomatis seperti gerak detak jantung dan tarikan-tarikan nafas kita (yang tidak kita kendalikan)

Imam Ali Zainal ‘Abidin as di dalam do’anya:

“Ilahi, Ilhamkanlah kepada kami Zikir kepada-Mu
di kesendirian maupun di keramaian,

di malam hari maupun di siang hari,

secara terang-terangan, maupun secara rahasia (sembunyi),

di saat gembira maupun di saat kesusahan,

jadikanlah hati kami menjadi senang dengan berzikir al-khafi“
(Bihar al-Anwar 94 : 151)

Laa haula wa laa quwwata illa billah – Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah jua.
 
 HARAPAN PADA HARI AKHIR

Adalah harapan agar manusia memasuki dunia tanpa waktu, karena kemarin, hari ini dan esok sirna dalam HATI, dan yg ada hanya waktu bersama Alloh, itulah Iman kepada hari akhir. Sudahkah kita seperti itu? perbarui perbarui perbarui...
Walau ia berada ditengah makhluk, ditengah perubahan ruang dan waktu, tetapi jiwanya tanpa ruang dan waktu. Tak tergoyahkan tak terpalingkan dari apapun walau zaman menggulungnya. Karena Ia bersama Alloh disana.
Berdzikir kepada Alloh sebanyak-banyaknya adalah sebuah ekspresi dari Liqo'Alloh ( bertemu Alloh )
Setelah harapannya tercapai dan ia mewujudkan dalam setiap waktu bersama-Nya, dimana dan kapan saja.
Segalanya adalah dzikir, namun segalanya adalah Al-Madzkur ( yg didzikiri, Alloh Ta'ala ) Kemanapun ia menghadap disanalah wajah Alloh.
 
DZIKIR DALAM TAREKAT


Tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti:
jalan atau petunjuk jalan atau cara, Metode, system (al-uslub), mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), keadaan (al-halah) tiang tempat berteduh,tongkat, payung (‘amud al-mizalah).
 
Menurut Al-Jurjani ‘Ali binMuhammad bin ‘Ali (740-816 M),tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta ’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.
DZIKRULLAH (Menggapai Ketenteraman Hati)

Di dalam ajaran Islam, dzikrullah berarti menjaga hati untuk selalu menyebut dan mengingat Allah Swt.
Menurut kalangan sufi, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali dan Ibn Athaillah,
Dzikir kepada Allah Swt memiliki tiga bagian.


Pertama, dzikir lisan-disebut dzikr jali (jelas);
 
yaitu mengingat Allah Swt dengan ucapan lisan, yang berupa ucapan pujian, syukur, dan doa kepada-Nya. Misalnya, seseorang mengucapkan tahlil (la ilaha illaallah), tasbih (subhanallah), dan takbir (allahu akbar).

Rasulullah memberi contoh dzikir, seperti disebutkan di dalam hadits, “Kalau aku membaca subhanallah wa al-hamdu lillahi wa la ilaha illallah wallahu akbar, maka bacaan itu lebih aku gemari daripada mendapatkan kekayaan sebanyak apa yang berada di bawah sinar matahari.” (HR Muslim).


Kedua, dzikir hati-disebut dzikr khafi (sembunyi);
 
yaitu mengingat Allah Swt dengan khusyuk karena ingatan hati, baik disertai dzikir lisan ataupun tidak. Seseorang yang melakukan dzikir semacam ini, hatinya senantiasa memiliki hubungan dengan-Nya; merasa kehadiran Allah Swt di dalam dirinya. Ketika berdzikir, kita sesungguhnya dekat dengan Allah Swt.


Ketiga, dzikir jiwa-raga, dzikr haqiqi;
 
yaitu mengingat Allah Swt yang dilakukan seluruh jiwa dan raga, baik lahiriah maupun batiniah, di mana dan kapan saja. Jiwa dan raga kita hanya mengerjakan perintah-perintah Allah Swt dan menghindarkan diri dari berbagai larangan-Nya. Inilah tingkatan paling tinggi dalam mengingat Allah Swt, seperti diakui kalangan sufi.


Faedah-Faedah Dzikir :
Bila seseorang benar-benar melaksanakan dzikir sesuai dengan yang dikehendaki Allah Swt dan Rasul-Nya, maka setidaknya ada 20 faedah yang diperoleh oleh orang tersebut, yaitu :
 
1. Baik sangka kepada Allah Swt. 
2. Mendapat rahmat dan inayah dari Allah Swt. 
3. Memperoleh sebutan dari Allah Swt dihadapan hamba-hamba pilihan. 
4. Membimbing hati dengan mengingat dan menyebut Allah Swt. 
5. Melepaskan diri dari azab Allah Swt. 
6. Memelihara diri dari godaan setan dan membentengi diri dari maksiat. 
7. Mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. 
8. Mendapatkan derajat yang tinggi disisi Allah Swt. 
9. Memberikan sinar kepada hati dan menghilangkan kekeruhan jiwa. 
10.Menghasilkan tegaknya suatu rangka dari Iman dan Islam. 
11. Menghasilkan kemuliaan dan kehormatan di hari kiamat. 
12. Melepaskan diri dari perasaan menyesal. 
13. Memperoleh penjagaan dan pengawalan dari para malaikat. 
14. Menyebabkan Allah Swt bertanya kepada para malaikat yang menjadi utusan Allah Swt tentang keadaan orang-orang yang berdzikir itu. 
15. Menyebabkan berbahagianya orang-orang yang duduk beserta orang-orang yang berdzikir, walaupun orang orang tersebut tidak berbahagia. 
16. Menyebabkan dipandang “ahlul ihsan”, dipandang orang-orang yang berbahagia dan pengumpul kebajikan. 
17. Menghasilkan ampunan dan keridhaan Allah Swt. 
18. Menyebabkan terlepas dari pintu fasiq dan durhaka. Karena orang yang tiada mau menyebut Allah Swt (berdzikir) dihukum orang yang fasiq. 
19. Merupakan ukuran untuk mengetahui derajat yang diperoleh disisi Allah Swt. 
20. Menyebabkan para Nabi dan orang Mujahidin (syuhada) menyukai dan mengasihi.  
Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa dengan dzikir kepada Allah Swt, akan tergapai ketenteraman hati, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d [013]:28). 
Oleh karena itu, mari kita tingkatkan dzikir kita kepada Allah Swt, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun, agar hati kita selalu tenteram lantaran selalu ingat kepada Allah Rabbul Izzati, amin.


 
 
Menemui Alloh 
Bismilah...

Nawaitu dzikrullaahi ta’ala........... Hamba niat dzikrullah
Al jasadu kiblatul qolbi..............Jasad saya menghadap ke hati
Wa qolbi kiblatur ruuhi................ Hati saya menghadap ke ruh
Wa ruuhi kiblatullaahi Ruuh......... saya menghadap ke Allah

Ilahi anta maqsudi waridhoka mathlubi a'thini mahabbataka wa ma'rifataka

“Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya” (QS Al Insyqaq 84 : 6)

Berjumpa dengan Tuhan adalah dambaan setiap manusia dan itu merupakan impian tertinggi yang selalu dicita-citakan oleh semua orang. Ketika berbicara tentang “Berjumpa dengan Tuhan” maka yang terbayang pada semua orang adalah Kematian, Setelah manusia meninggal dunia (nafas berhenti) barulah ada peluang berjumpa dengan Tuhannya. Berjumpa dengan Tuhan setelah kematian itu sifatnya spekulatif, (bisa ya bisa juga tidak) lalu bagaimana kalau setelah meninggal kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan?

Kenikmatan tertinggi bagi penduduk Surga adalah melihat wajah Tuhan, artinya ada kemungkinan orang yang di surga tidak bisa melihat Tuhan, tentu saja mustahil bagi orang yang tidak masuk surga bisa berjumpa dengan Allah.

Andai nanti kita tidak berjumpa dengan Tuhan di akhirat, lalu mau kemana kita? Mau balik ke dunia???

Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa proses perjumpaan dengan Tuhan itu berlangsung di dunia dan proses situ harus kita selesaikan di dunia ini juga sehingga di akhirat kita tidak lagi mengalami kesulitan menemui Allah. Yang diperlukan adalah kesungguhan kita untuk semaksimal mungkin berusaha menemui-Nya.

“Apabila hamba-Ku ingin menemui-Ku, Akupun ingin menemui-nya dan bila ia enggan menemui-Ku, Akupun enggan menemui-nya” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Firman Allah dalam hadist qudsi di atas memberi gambaran kepada kita bahwa Allah ingin sekali ditemui namun terkadang hamba-Nya yang lalai dengan kesibukannya sendiri.

Menemui Allah, ya berjumpa dan memandang wajah-Nya itulah kenikmatan yang paling tinggi yang dirasakan oleh para pecinta-Nya.

Kalau di dalam shalat kita tidak merasakan kehadiran-Nya ( Hidupnya Qolbu ) berarti kita belum berjumpa dengan-Nya, maka kita harus belajar lagi sampai kita bermakrifat kepada-Nya.

Syukur Alhamdulillah berkat Syafaat Rasulullah dan bimbingan Guru Mursyid,Kita sudah menemuinnya baik lahir maupun bathin
 
 
GERBANG PINTU AGUNG

Sudah waktunya kita mengenal dan mengamalkan wirid thoriqoh agar bisa memasuki gerbang ilahi. Jangan katakan dan menyesali serta menangisi kenapa sekarang ini kita belum bisa memasulinya ?

Rumah Agung itu sesungguhnya adalah Hati kita sendiri. Kenapa selama ini kita sudah wirid dan dzikir kok biasa-biasa saja...sebab wirid dan dzikir yg kita lakukan selama ini ada campur tangan hawa nafsunya.

Jangan dikira setiap kebajikan dan derajat ruhani seseorang tidak diikuti oleh nuansa nafsu, sebagai ujian bagi orang itu.

Ahli ibadah misalnya, tantangan terberat adalah nafsunya sebagai ahli ibadah. Diantara nafsu yg muncul dari ahli ibadah itu misalnya, " Rasa bangga sebagai ahli ibadah, merasa paling dekat dg Alloh, merasa bisa istiqomah, lalu orang lain dibawah dia dan seterusnya.

Karena itu langgengkan dzikir jahar dan dzikir khofi. sambung terus ruhmu dg dzikir khofi dimana, kapan dan dalam situasi apapun, baik suka maupun duka, gembira maupun gelisah.
 
 
SYAHADATAIAN

Adalah bentuk kepasrahan dan keislaman kita. Segala bentuk kemakhlukan lahir dan bathin haruslah terhapuskan agar tidak menjadi berhala ketika qolbu kita tawajuh kepada Alloh Swt.

Seluruh pengakuan iman kita ada didalam syahadatain yg harus segera kita wujudkan dalam praktek ibadah lahir dan bathin kita. Jika mengingat Alloh (berdzikir) melalui musyahadah segalanya tiada (Sifat Adam), yg ada hanya sifat kemuhammadiyahan (Sifat Mursyid)

Karena dg melalui beliaulah (mursyid) cahaya Nubuwwah kita mengenal Alloh dan Musyahadah kepadaNya, sehingga Alloh memantulkan fadhal dan rahmatnya kepada kita.
 
 
TAKBIR ( Allohu Akbar )

Adalah perjalanan terakhir dari sifat Adam ( Tiada ) kepada sifat kemuhammadiyahan ( Hidupnya sang Mursyid didalam qolbu ) adalah sebuah pengakuan amaliyah dan maqomat serta nuansa terdalam dari ruhaniyah manusia.

Itulah perjalanan tawajuh dari sifat Adam kewilayah kemuhammadiyahan.
 
 
 

“Hai’atil Maknun”.

BILA AKU CERITAKAN NISCAYA HALAL DARAHKU

Sangat sulit menjelaskan hakikat dan makrifat kepada orang-orang yang mempelajari agama hanya pada tataran Syariat saja, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal hakikat dari Al-Qur’an itu adalah Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, dengan Nur itulah Rasulullah SAW memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Allah SWT. Hapalan tetap lah hapalan dan itu tersimpan di otak yang dimensinya rendah tidak adakan mampu menjangkau hakikat Allah, otak itu baharu sedangkan Allah itu adalah Qadim sudah pasti Baharu tidak akan sampai kepada Qadim. Kalau anda cuma belajar dari dalil dan mengharapkan bisa sampai kehadirat Allah dengan dalil yang anda miliki maka saya memberikan garansi kepada anda: PASTI anda tidak akan sampai kehadirat-Nya.

Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah bermakrifat, bisa berjumpa dengan Malaikat, berjumpa dengan Rasulullah SAW dan melihat Allah SWT, dan anda menganggap itu sebuah kebohongan dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli makrifat tersebut dengan dalil yang menurut anda sudah benar, padahal kadangkala dalil yang anda berikan justru sangat mendukung ucapan para Ahli Makrifat cuma sayangnya matahati anda dibutakan oleh hawa nafsu, dalam Al-Qur’an disebuat Qatamallahu ‘ala Qukubihum (Tertutup mata hati mereka) itulah hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan.

Rasulullah SAW menggambarkan Ilmu hakikat dan makrifat itu sebagai “Haiatul Maknun” artinya “Perhiasan yang sangat indah”. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :

Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan yang tidak ada seoranpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berzikir kepada Allah)” (H.R. Abu Abdir Rahman As-Salamy)

Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut kata Nabi bahwa ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali para Ulama Allah yakni Ulama yang selalu Zikir kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi yakni ilmu Thariqat yang didalamnya terdapat amalan-amalan seperti Ilmu Latahif dan lain-lain.

Masih ingat kita cerita nabi Musa dengan nabi Khidir yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah untuk anak yatim piatu untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah, kalau rumah tersebut dibiarkan ambruk maka emasnya akan dicuri oleh perampok, harta tersebut tidak lain adalah ilmu hakikat dan makrifat yang sangat tinggi nilainya dan rumah yang dimaksud adalah ilmu syariat yang harus tetap dijaga untuk membentengi agar tidak jatuh ketangan yang tidak berhak.

Semakin tegas lagi pengertian di atas dengan adanya hadist nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut :

Aku telah hafal dari Rasulillah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebarluaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku (engkau menghalalkan darahku). (HR. Thabrani)

Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, dengan demikian barulah kita sadar kenapa banyak orang yang tidak senang dengan Ilmu Thariqat? Karena ilmu itu memang amat rahasia, sahabat nabi saja tidak diizinkan untuk disampaikan secara umum, karena ilmu itu harus diturunkan dan mendapat izin dari Nabi, dari nabi izin itu diteruskan kepada Khalifah nya terus kepada para Aulia Allah sampai saat sekarang ini.

Jika ilmu Hai’atil Maknun itu disebarkan kepada orang yang belum berbait zikir atau “disucikan” sebagaimana telah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ala, orang-orang yang cuma Ahli Syariat semata-mata, maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa ilmu jenis kedua ini yakni Ilmu Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat adalah Bid’ah dlolalah. Tentang pembelaan dari Ahli Thariqat dapat anda baca disini

Dan mereka ini mempunyai I’tikqat bahwa ilmu yang kedua tersebut jelas diingkari oleh syara’. Padahal tidak demikian, bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari daripada ilmu yang pertama artinya ilmu Thariqat itu intisari dari Ilmu Syari’at.
Oleh karena itu jika anda ingin mengerti Thariqat, Hakekat dan Ma’rifat secara mendalam maka sebaiknya anda berbai’at saja terlebih dahulu dengan Guru Mursyid (Khalifah) yang ahli dan diberi izin dengan taslim dan tafwidh dan ridho. Jadi tidak cukup hanya melihat tulisan buku-buku lalu mengingkari bahkan mungkin mudah timbul prasangka jelek terhadap ahli thariqat.

Dzikrullah merupakan Rohnya seluruh peribadatan


Pada tatanan spiritualitas Islam, dzikrullah merupakan kunci membuka hijab dari kegelapan menuju cahya Ilahy. Alqu’an menempatkan dzikrullah sebagai pintu pengetahuan makrifatullah, sebagaimana tercantum dalam surat Ali Imran 190-191.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau sambil duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”

Kalimat “yadzkurunallah” orang-orang yang mengingat Allah, didalam `tata bahasa arab’ berkedudukan sebagai ma’thuf (tempat bersandar) bagi kalimat-kalimat sesudahnya, sehingga dzikrullah merupakan dasar atau azas dari semua perbuatan peribadatan baik berdiri, duduk dan berbaring serta merenung (kontemplasi).

Dengan demikian praktek dzikir termasuk ibadah yang bebas tidak ada batasannya. Bisa sambil berdiri, duduk, berbaring, atau bahkan mencari nafkah untuk keluarga sekalipun bisa dikatakan berdzikir, jika dilandasi karena ingat kepada Allah. Juga termasuk kaum intelektual yang sedang meriset fenomena alam, sehingga menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh manusia.

Dzikrullah merupakan sarana pembangkitan kesadaran diri yang tenggelam, oleh sebab itu dzikir lebih komprehensif dan umum dari berpikir. Karena dzikir melahirkan pikir serta kecerdasan jiwa yang luas, maka dzikrullah tidak bisa hanya diartikan dengan menyebut nama Allah, akan tetapi dzikrullah merupakan sikap mental spiritual mematuhkan dan memasrahkan kepada Allah Swt.

Dari Dardaa Ra : bersabda Rasulullah Saw “Maukah kalian saya beritakan sesuatu yang lebih baik dari amal-amal kalian, lebih suci dihadapan penguasa kalian, lebih luhur di dalam derajat kalian, lebih bagus bagi kalian dari pada menafkahkan emas dan perak, dan lebih bagus dari pada bertemu musuh kalian (berperang) kemudian kalian menebas leher-leher mereka atau merekapun menebas leher-leher kalian ??”

Mereka berkata : “baik ya Rasulullah”. Beliau bersabda : “dzikrullah” atau ingat kepada Allah (dikeluarkan oleh At thurmudzy dan Ibnu Majah, dan berkata Al Hakim: shahih isnadnya).

Betapa dzikrullah ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, karena merupakan jiwa atau rohnya seluruh peribadatan, baik shalat, haji, zakat, jihad dan amalan-amalan lainnya. Dari sisi lain, Allah sangat keras mengancam orang yang tidak ingat kepada Allah didalam ibadahnya. Seperti dalam surat Al Ma’un ayat :4-6

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’.”

“fashalli lirabbika” maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu (QS.108:2 )

Perbuatan `riya’ ialah melakukan suatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah, akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat. Amal perbuatan seperti itu yang akan ditolak oleh Allah, dan dikategorikan bukan sebagai perbuatan Agama (Ad dien).

Banyak orang yang mendirikan shalat, sementara ia hanya mendapatkan rasa lelah dan payah (Al Hadist)

Sabda Nabi Saw : “Akan datang pada suatu masa, orang yang mengerjakan shalat, tetapi mereka belum merasakan shalat” (HR. Ahmad, dalam risalahnya: Ash shalatu wa ma yalzamuha)

Jadi jelaslah maksud hadist-hadist diatas bahwa seluruh peribadatan bertujuan untuk memasrahkan diri dan rela kepada Allah, sebagaimana pasrahnya alam semesta.

Untuk mencapai kepada tingkatan yang ikhlas kepada Allah serta menerima Allah sebagai junjungan dan pujaan, jalan atau sarana yang paling mudah telah diberikan Allah, yaitu dzikrullah. Keikhlasan kepada Allah mustahil bisa dicapai, tanpa melatih dengan menyebut nama Allah serta melakukan amalan-amalan yang telah ditetapkan-Nya.

Telah menyebutkan Abdullah bin Yusr, bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki berkata. wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat iman itu sungguh amat banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku dengan sesuatu yang aku akan menetapinya. Beliau bersabda : “Senantiasa lisanmu basah dari dzikir (ingat) kepada Allah Ta’ala.”

Keluhan laki-laki yang datang kepada Rasulullah menjadi pelajaran dan renungan bagi kita , yang ternyata syariat iman itu amat banyak jumlahnya dan tidaklah mungkin kita mampu melaksanakan amalan syariat yang begitu banyak tersebut, kecuali mendapatkan karunia bimbingan dan tuntunan dari Allah Swt. Rasulullah telah memberikan solusinya dengan memerintahkan selalu membasahi lisan kita dengan menyebut nama Allah.

Dengan cara melatih berdzikir kepada Allah kita akan mendapatkan ketenangan, kekhusyu’an dan kesabaran yang berasal dari Nur Ilahy.

Keutamaan berdzikir kepada Allah

Apabila benar-benar mengerjakan dzikir menurut cara yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya, sedikitnya ada dua puluh keutamaan yang akan dikarunikan kepada yang melakukannya, yaitu :
  1. Mewujudkan tanda baik sangka kepada Allah dengan amal shaleh ini.
  2. Menghasilkan rahmat dan inayat Allah
  3. Memperoleh sebutan yang baik dari Allah dihadapan hamba-hamba yang pilihan
  4. Membimbing hati dengan mengingat dan menyebut Allah
  5. Melepas diri dari azab
  6. Memelihara diri dari was-was syaitan khannas dan membenteng diri dari ma’syiat
  7. Mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
  8. Mencapai derajat yang tinggi disisi Allah
  9. Memberikan sinaran kepada hati dan menghilangkan kekeruhan jiwa
  10. Menghasilkan tegaknya suatu rangka dari iman dan islam
  11. Menghasilkan kemulliaan dan kehormatan pada hari kiamat
  12. Melepaskan diri dari rasa sesal
  13. Memperoleh penjagaan dari para malikat.
  14. Menyebabkan Allah bertanya tentang keadaan orang-orang yang berdzikir itu.
  15. Menyebabkan berbahagianya orang-orang yang duduk beserta orang-orang yang berdzikir, walupun orang yang turut duduk itu tidak berbahagia .
  16. Menyebabkan dipandang ahlul ihsan, dipandang orang-orang yang berbahagia dan pengumpul kebajikan.
  17. Menghasilkan ampunan dan keridhaan Allah
  18. Menyebabkan terlepas dari suatu pintu fasik dan durhaka. Karena orang yang tidak menyebut Allah (tidak berdzikir) dihukum sebagai orang fasik.
  19. Merupakan ukuran untuk mengetahui derajat yang diperoleh di sisi Allah.
  20. Menyebabkan para Nabi dan orang-orang mujahidin (syuhada) menyukai dan mengasihi. (Al Fathul Jadied : syarah At Targhieb Wat Tarhieb)


Dengan sebagian manfaat yang tercantum diatas, layaklah jika dzikrullah di dudukkan sebagai pintu pembuka jalan kebajikan dan jalan makrifatullah. Keutamaan-keutamaan tersebut bukan sekedar catatan yang menarik bagi kaum muslimin, akan tetapi hal tersebut bisa kita peroleh dan dirasakan dengan sebenar-benarnya, apabila kita serius dan sungguh-sungguh didalam melaksanakan amalan-amalan dzikir kepada Allah.

Dalil-dalil yang menganjurkan dzikrullah serta ancaman bagi yang meninggalkannya.
  1. Surat Ali”Imran (190-191)
    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda dari orang yang berakal. (3-190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksaan neeraka.
  2. Surat An Nisaa’ (103)
    Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguh-nya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
  3. Surat Al Anfaal (45)
    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.
  4. Al Munaafiquun (ayat 9)
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
  5. Al Mujaadilah (ayat 19)
    Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa golongan syetan itulah golongan yang merugi.
  6. Az zukhruf :36
    Barang siapa yang berpaling dari ingat kepada yang maha pemurah, kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
  7. An nisa 142
    Sesungguhnya orang “orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas…, mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) dihadapan manusia, tidaklah mereka menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.
  8. Al baqarah 152
    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmatku)
  9. Al baqarah 200
    Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau bahkan lebih banyak dari itu.
  10. Al Ahzab 35
    Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang benar.
  11. Al Ahzab 41
    Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir sebanyak-banyak nya.
  12. An Nur 37
    Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) membayar zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
  13. Al A’Raaf 205
    Dan sebutlah (nama) Tuhanmu didalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan tidak mengeraskan suaramu, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (tidak berdzikir)
  14. Ar Ra’d :28
    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allalh hati menjadi tentaram.
  15. Al Jumu’ah :9
    Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk sembahyang pada hari jum’at, maka segeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui     


 hadist-hadist Rasulullah


  1. Dari Abu Hurairah Ra. Dari Rasulallah Saw. Bersabda : “barang siapa yang duduk pada suatu termpat duduk yang dia tidak dzikir (ingat) kepada Allah, dan atau ditempat itu, maka ada atasnya kebencian dari Allah ta’ala. Dan barang siapa bertiduran pada tempat tidur yang ia tidak dzikir kepada Allah ditempat itu, maka ada atasnya kebencian dari Allah”, artinya merupakan kekurangan tabiat jelek dan kerugian. (dikeluarkan oleh Abu Dawud)
  2. Banyaklah olehmu menyebut Allah disegenap keadaan karena tak ada sesuatu amal yang lebih disukai Allah dan tak ada yang sangat melepaskan hamba dari suatu bencana di dunia dan akhirat dari pada menyebut Allah (HR: At Tabrany )
  3. Berfirman Allah Swt. Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan aku besertanya dimana ia mengingat akan Aku (HR Bukhari Muslim)
  4. Tidaklah duduk sesuatu kaum disuatu majelis lantas mereka menyebut nama Allah dimajelis itu melainkan mengelilingi mereka dan rahmat menutupi mereka dan Allah menyebut mereka dihadapan orang-orang yang disisi-Nya ( HR Ibn Syaiban. Tahfudz Dzikirin:12)
  5. Tiada berkumpul suatu kaum didalam suatu rumah Allah (masjid) untuk menyebut Allah hendak memperoleh keridhoan-Nya melainkan Allah memberikan ampunan kepada mereka itu. Dan menggantikan keburukan-keburukan mereka dengan berbagai kebaikan (HR Ahmad At Targhieb 3:63)
  6. Barang siapa tiada banyak menyebut Allalh, maka sesungguhnya terlepas dia dari imannya (HR. At Tabrany dalam Al Ausath )
  7. Bahwasanya Allah berfirman: “hai anak Adam, apabila engkau telah menyebut akan Aku, berarti engkau telah mensyukuri akan Aku. Dan apabila engkau telah melupakan akan Aku, berarti engkau telah mengingkari nikmat dan ihsan-Ku” ( HR. At Tabrany dalam Al Ausath)
  8. Perumpamaan orang yang menyebut tuhannya dengan orang orang yang tidak menyebut tuhannya, adalah umpama orang yang masih hidup dibanding dengan orang mati. (HR. Bukhary At TarghiebWat Tarhieb 3:59)
  9. Berkata Abu Hurairah Ra. Bersabda Nabi Muhammad Saw. telah mendahului “mufarridun”. Mereka (para sahabat) berkata: Apakah Mufarridun itu? Beliau menjawab: orang-orang lelaki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (dikeluarkan Oleh Imam Muslim)
  10. Telah menyebutkan Abdullah bin Yusr bahwa sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata: Sesungguhnya syari’at iman itu sungguh amat banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku dengan sesuatu yang aku menetapinya. Beliau bersabda: senatiasa lisanmu basah dari dzikir (ingat) kepada Allah Ta’ala.
  11. Sudah terlalu banyak yang kita mengerti dari perintah-perintah Allah didalam Al Quran dan Al Hadist. Namun apakah akan tetap menjadikan dalil tinggallah dalil, dan kita tetap saja tidak mau berbuat banyak dalam melaksanakan peribadatan kepada Allah. Sampai kapan kita hanya mengumpulkan data-data keislaman yang tidak terhitung banyaknya. Apakah sebenarnya tujuan kita beragama !? Bukankah kita akan kembali kepada-Nya dengan tidak membawa apa-apa (Pasrah) !?
Terlalu panjang… kalau kita membicarakan persoalan yang tiada habis-habisnya. Apalagi mempersoalkan hal furuiyyah, syariat Islam itu tidak sekedar soal hukum-hukum positif saja, tetapi banyak nilai spiritual yang belum digali dengan benar. Akibatnya kita ketinggalan dengan para Yogi India yang menekuni realitas kejiwaan yang bersifat universal, sehingga para penganutnya bukan saja dari kalangan hindu, akan tetapi sebagian orang Islam dan bangsa Eropa yang beragama Kristen telah menekuninya tanpa harus menjadi Hindu. Dan membawa manfaat baik lahir maupun mental spiritualnya.
  1. Mengapa nilai spiritual Islam tidak mampu menembus wilayah bangsa-bangsa lain yang bermanfaat bagi kedamaian manusia, yang diakui menyatakan Rahmatan lil’alamin !?
  2. Mengapa kita memandang mereka dengan rasa kebencian dan bermusuhan.? Padahal tidak semua orang kafir harus diperangi (harbi).
  3. Mengapa kita tidak melakukan saja pekerjaan yang bermanfaat untuk kesejahteraan ummat manusia dan alam?
  4. Mengapa kita tidak menjadikan manusia itu cerdas dan bermental spiritual yang damai?
Lihatlah bangsa Jepang, negara yang amat kecil dan disegani lawannya, dikagumi semua Ummat, padahal dia tidak memiliki pasukan penggempur musuh.

Kita Ummat yang mengaku khairun Ummat (Ummat yang terbaik), ternyata dilecehkan dan dihinakan, dijajah, dan tidak dipandang sebagai ummat yang cerdas, bahkan hampir disamakan dengan bangsa primitif, karena menonjolkan sifat kekasaran, dan kekuatan ototnya. Kita mudah marah dan tersinggung, jika dikatakan ummat islam itu terbelakang, yang identik dengan kemiskinan dan kebrutalan.

Kenyataannya kita sering dihambat oleh ummat sendiri. Al islam mahjubun bil Muslim, kreatifitas dan inovasi pemikiran dan kajian ummat, terkadang diserang habis habisan tanpa ikut meneliti terlebih dahulu kebenarannya dengan alasan bid’ah.

Orang yang menekuni bidang pendidikan, filsafat, dan ilmu-ilmu sain dianggap tidak memperjuangkan ummat, padahal mereka adalah orang yang mengisi khasanah keilmuan yang digali dalam literatur Islam yang penuh dengan persoalan-persoalan manusia, alam dan fenomenanya. Saya mengajak segenap ummat Islam agar kembali kepada jalan suci yang dirintis para pendahulu kita, yang lebih banyak berbuat ketimbang berbicara. Islam berkembang bukan dengan kekerasan, akan tetapi melalui kebudayaan, melalui sains yang digali oleh para Ulama yang mengungkapkan keagungan dan keunikan alam semesta. Ulama-ulama yang sangat intens terhadap ilmu fisika, matematika, dan kedokteran seperti, Ibnu Sina, Al Jabber, Ibnu Rusydi dll, mempunyai andil mengangkat derajat dan kebesaran Islam pada abad ke tujuh sampai akhir abad kedua belas…, hingga akhirnya terpuruk pada saat ini. Menurut pandangan saya, Jepang, Singapura, Perancis adalah potret negara Islami yang sebenarnya, sebab disanalah dasar-dasar filsafat Islam tertanam menjadi budaya yang tinggi seperti kedisiplinan, ketekunan, kesadaran hukum, kebersihan, wajib belajar, memperhati-kan hak asasi manusia, binatang, dan lingkungan. Hanya satu yang belum yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya

Demikian harapan dan sentuhan rasa yang dalam akan keinginan khasanah keislaman dijalankan melalui gerakan jiwa yang dalam dan bersih. Dan hanya dengan berbuat melalui kesadaran spiritual yang tinggi keinginan itu akan tercapai. Sebab kesadaran adalah modal tertinggi untuk mencapai sesuatu. Bukan dengan emosi dan cemburu terhadap karya orang lain lalu kemudian memusuhinya tanpa jelas perkaranya. Hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang sehingga melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan berperilaku akhlaq yang mulia.

Memasuki keadaan diri (Aku)

Marilah kita belajar menyelami kesadaran diri yang sebenarnya, dan mengenali hakikat ruh yang biasa menyebut dirinya “Aku”. Dan saya tidak akan bicara soal dalil-dalil. Ibaratnya kita melakukan shalat, kita tidak lagi butuh dalil, akan tetapi kita tinggal memasuki keadaan shalat yang sebenarnya.

Manusia merupakan makhluq yang sempurna sehingga diangkat sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini. Biarpun sebagian besar orang tidak mengerti banyak tentang sifat sebenarnya dari diri sendiri. Dalam susunan fisik, mental dan kerohaniannya terdapat sifat yang tertinggi maupun terendah. Didalam tulang-tulang terdapat kehidupan bersifat mineral, badan dan darahnya benar-benar mengan-dung bahan mineral.

Kehidupan fisik badan manusia mirip dengan kehidupan tanaman. Banyak keinginan /nafsu fisik serta emosi mirip dengan yang dimiliki oleh binatang. kemudian manusia mempunyai seperangkat sifat mental yang menjadi miliknya, dan tidak dimiliki oleh binatang yang bersifat rendah.



Benda-benda fisik dan mental tersebut adalah milik manusia, dan bukannya manusia itu sendiri. Sebelum manusia (“Aku”) dapat menguasai atau mengalahkan, dan mengarahkan benda yang menjadi miliknya yaitu alat dan instrumennya terlebih dahulu ia harus menyadari dirinya secara benar. Ia harus dapat membedakan mana yang merupakan Aku dan mana yang merupakan alat atau milik Aku, dapat membedakan mana yang Aku dan mana yang bukan Aku. Inilah tahapan pertama yang harus disadari.

Katakan bahwa Ruh itu adalah dari amar-amar-Ku, Aku adalah ruh yang ditiupkan kedalam tubuh yang terbuat dengan komposisi kosmos yang sempurna setelah diberi bentuk. ( Al Hijir 28-29) sang aku bersifat abadi tidak bisa mati, tidak bisa rusak. Ia memiliki kekuasaan, kebijaksanaan dan kenyataan.

Tetapi seperti halnya seorang bayi yang kemudian menjadi dewasa, bathin manusia tidak menyadari sifat potensial yang tertidur dalam dirinya, dan tidak mengenal dirinya sendiri yang sebenarnya. Bila diri sendiri yang sebenarnya sudah bangun, ia mengenal mana yang disebut Aku dan mana yang bukan Aku sebagai dirinya sendiri atau Aku. Aku inilah yang akan kembali kehadirat asalnya yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.. Sesungguhnya Aku adalah berasal dari Allah dan kepada-Nya lah Aku kembali.

Badan ini mempunyai perasaan, keinginan dan nafsu. Tetapi pikiran semacam itu terdapat pula pada banyak orang yang mengaku beradab. Mereka menggunakan daya pikirnya guna memenuhi nafsu dan keinginan fisiknya, padahal mereka sebenarnya hidup dalam tingkat bathin naluri. Tentu, setelah orang menjadi lebih beradab maka perasaannya menjadi lebih halus, sedangkan orang primitif mempunyai perasaan kasar. Yang perlu dicatat adalah, pikiran orang beradabpun masih diperbudak oleh keinginan dan nafsu badannya.

Setelah manusia semakin tinggi tingkatannya, mulailah ia mempunyai konsep tentang Aku nya yang lebih tinggi. Ia mulai menggunakan pikirannya dan akalnya, maka ia pindah dari tingkat bathin naluri ke tingkat bathin mental – ia mulai menggunakan kecerdasannya, ia mulai merasakan bahwa bathinnya adalah lebih nyata bagi dirinya dari pada badannya – bahkan kadang ia melupakan badannya bila sedang terbenam dalam pemikiran secara serius.

Setelah kesadaran orang meningkat “yaitu kesadarannya berpindah dari tingkat mental ke tingkat kerohanian“ ia menyadari bahwa “Aku” yang sebenarnya adalah sesuatu yang lebih tinggi dari pada pikiran, perasaan dan badan fisiknya, bahwa semuanya ini dapat digunakan sebagai alat atau instrumennya. Pengetahuan ini bukan merupakan pengertian saja, tetapi merupakan kesadaran yang khas, artinya orang benar-benar merasakan sebagai Aku yang sebenarnya (sebagai bashirah).

Dalam kajian kali ini, kami coba menunjukkan kepada anda cara mengembangkan atau membangkitkan kesadaran Aku yang fitrah. Ini merupakan amalan pertama yang harus disadari, sebab kita tidak akan bisa melakukan pendekatan kepada Allah kalau tidak menyadari hakekat diri yang hakiki. Seperti tujuan melakukan amalan puasa dibulan ramadhan adalah mencapai fitrah (idul fitri, kembali kepada fitrah yang mempunyai sifat suci seperti bayi yaitu diri yang sejati atau “Aku”).

Kesadaran`Aku” ini merupakan langkah pertama pada jalan menuju keadaan yang disebut sebagai `penerang”, merupakan realisasi hubungan dengan Yang Maha Agung.


Ketika kita mendapatkan sebuah amalan dzikir dari seorang mursyid, secara tidak langsung kita mendapatkan sebuah rahmat dari Alloh SWT, yang berbentuk ketenangan bathiniyyah. yang mana tiap individu seorang muslim akan mendapatkan sebuah ketenangan didalam bathiniyah, dengan jalan yang tidak sama dengan muslim lainnya. Tentunya hal ini terjadi karena tingkat rasa penerimaan dan keihlasan muslim yang berbeda-beda.

Seperti halnya saat kita dikarunia sakit, kita akan berobat kedokter dan meminum obat yang sesuai dengan petunjuk dari seorang dokter, itu juga sama seperti kebanyakan orang. Ada yang langsung sembuh, dan juga ada yang tidak ada reaksi apa-apa, atau bahkan sakitnya tambah parah. Kenapa hal yang demikian bisa terjadi? karena daya ketahanan tubuh kita yang berbeda-beda.

Begitu juga dengan dzikir, seperti yang sudah Allah tuturkan dalam ayat berikut,

  الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra'd : 28)

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa saat kita berdzikir kita tidak menemukan ketenangan? bahkan terasa biasa-biasa saja seolah tidak ada hal yang istimewa? Padahal lafadz dzikir yang kita baca adalah dzikir yang sama? 

Jawabanya adalah karena kita mendapatkan dzikir tersebut dari orang yang mati hatinya atau dari buku-buku yang banyak beredar dipasaran, kita tidak tau dan mengenal si penulis. Solusinya hanya satu? segera ambil dzikir dari seorang yang ikhlas hatinya ( Seorang Mursyid ).


Istiqomah untuk mendapatkan kenikmatan Dzikir 



Ketika kita sudah dapat amalan dari seorang Mursyid, amalkanlah sesuai dengan petunjuknya. Biarkan seorang mursyid yang melukis dan mencoret-coretmu, karena sesungguhnya Dia-lah  yang menggerakkan hati kita, apa yang tersirat dalam hati, pikiran,dan yang menggerakkan semua adalah berkat karomah seorang mursyid, sehingga hati kita diberi karunia oleh Alloh bisa mengingatNya dan mendapatkan  anugerah dariNya'.


Kemudian, kita belajar memasrahkan segenap raga, jiwa dan nyawa dengan segala kedhoifan kita, menuju pada pada satu Dzat yang Maha Agung. Merasakan pergerakan aliran darah dan desahan nafas sambil mencoba menghadirkan 'Allah' sehingga seolah-0lah Alloh benar-benar mengawasi kita saat ini.

Merasakan nikmat dzikir menurut pengalaman saya pribadi seperti halnya saat kita 'reflek', artinya kita tidak mengetahui awal mula datangnya rasa itu. Seperti halnya saat kita larut dalam keharuan dan tangis, karena semua kejadian itu tidak bisa kita dramatisir. Karena rasa penuh pasrah dalam jiwa kehambaan yang berhasil membawa kemomen sakral seperti itu. Inilah salah satu kekuatan dzikir yang bisa meremuk redam segala sifat angkuh seorang hamba.



Teringat sebuah kisah, Saat orang kafir ingin membunuh Rasulullah dengan pedangnya, "hai Muhammad, sekarang siapa yang bisa menolongmu?', kemudian Rasulullah hanya menjawab "Allah..." langsung seketika itu juga tangan sang kafir gemetar hingga pedangnya terjatuh.

Dari kisah ini, Rasulullah ingin memberi tauladan buat kita, bahwa rasa kepasrahan dalam berdzikir yakni hanya dengan menyebut asma 'Allah' saja sudah membuat sang kafir lemah tidak berdaya. Inilah salah satu contoh kekuatan jiwa dalam dzikir yang sudah Rasulullah ajarkan pada ummatnya.

Dzikir Yang Ideal

Kemudian dzikir yang idel itu seperti apa? Karena sering kita terjebak dengan bacaan dzikir yang panjang dan melelahkan hingga berakibat melenceng dari maksud dari dzikir itu sendiri.

Biasanya himmah kita dalam mencari dzkir (berdzikir) saat kita dihadapkan pada keadaan jiwa terlemah (karena biasanya pada saat itu kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa dalam memecahkan kesulitan hidup.)


Hingga tak jarang kita mencari dzikir atau do'a-do'a yang instan supaya kita cepat terbebas dari permasalahan dunia. Tentu saja cara ini kurang arif untuk kita lakukan, karena sejatinya Rasulullah sendiri sudah mengajarkan kepada kita dengan dzikir dari kita mulai bangun tidur hingga tidur lagi, dan inipun telah dicontohkan oleh seorang Mursyid

Istiqomah (terus-menerus) dzikir yang telah diberikan oleh Mursyid , Jangan tunda lagi, jangan menunggu Allah menguji kita lagi dengan kesusahan. Insya Allah dengan  melatih hati kita agar selalu ingat Alloh, kapan dan dimanapun berada, sehingga dzikir kita bisa meresap kedalam qolbu kia.

Itulah kenapa saat kita lupa berdzikir (yang sudah istiqomah) kita disunahkan untuk meng-qadha (mengulanginya lagi). Karena itu adalah kunci seorang muslim, untuk mendapatkan ketenangan bathiniyyah, sehingga kita tidak terjebak dan melenceng dari tujuan semula


Wallahua'lam

Hikmah Amaliyyah


HIKMAH AMALIYYAH

RAHASIA DIBALIK KALIMAH LAA ILAAHA ILLALLOH MUCHAMMADUROSULULLOH

Sembilan Macam huruf kalimah Thoyyibah (LAA ILAAHA ILLALLOHU MUCHAMADUROSUULULLOHI) adalah merupakan jalan yang harus di tempuh oleh setiap muslim di dalam menjalankan ibadah kepada Alloh dengan cara tahapan sebagai berikut :
  1. Seorang muslim harus bisa berakhlak dengan huruf WAWU yakni : WACHDATU WUJUDILLAH FIL QULUUBI (meng-Esakan Allah di dalm hatinya), bukan berarti Alloh menyatu dengan hamba-Nya atau yang kita kenal di dalam bahasa jawa dengan istilah manunggaling kawula gusti.
  2. Harus bisa berakhlak dengan huruf SIN yakni : SUNNATU MUCHAMMADIRROSULULLOH (mencontoh langkah-langkah Nabi Muhammad) sesuai dengan kemampuan dan pemahamannya di dalam menyimpulkan wahyu yang di bawa olehnya.
  3. Harus bias berakhlak deangan huruf RO yakni : ROJI’UN ILLALLOHI (kembali kepada Alloh) yakni senantiasa bertaubat kepada-Nya.
  4. Harus bisa berakhlak dengan huruf DAL yakni : DAMUTH THOO’ATI (ta’at secara intensif) baik ta’at secara vertical maupun horizontal.
  5. Harus bisa berakhlak dengan huruf CHA yakni : CHIFDUL A’DLO’I ‘ANIL MA’SHIYATI (menjaga organ tubuh supaya tidak maksiat) kepada Alloh dan Rosul-Nya.
  6. Harus bisa berakhlak dengan huruf MIM yakni : MUCHITHUM BIL ‘ILMIDH DHOHIRI WAMUCHITUM BIL ‘ILMIL BAATHINI (menguasai ilmu lahir dan ilmu batin) yakni ilmu dunia dan ilmu akherat.
  7. Harus bisa berakhlak dengan huruf HA yakni : HUDUU,UL KHUSYUU,I BILCHAWASIL KHOMSI (menempatkan khusu di dalam panca indera), baik indra raga, jiwa, maupun nyawa.
  8. Hurus bisaberakhlak dengan huruf ALIF yakni : ITTICHAADUT TAQWAA BILJIHATI (menyatukan taqwa dengan arah / ahli taqwa) dimanapun berada.
  9. Harus bisa berakhlak dengan huruf LAM yakni LUBBUL IKHLASHI (inti ikhlas/bersih raga, jiwa, dan nyawa) dalam setiap amalnya (murni).
SEMBILAN MACAM HURUF yang ada di dalam kalimah Toyyibah (LAA ILAAHA ILLALLOHU MUCHAMMADUROSULULLOHI), yakni : WAWU, SIN, RO, DAL, CHA, masing-masing satu huruf. Sedangkan MIM ada dua, HA ada tiga, ALIF ada enam, dan LAM ada delapan.

Jadi jumlahnya pas ada DUAPULUH EMPAT (24) HURUF, ialah menuntut kepada orang islam dalam masa duapuluh empat jam supaya bisa menutup lubang sembilan. Yaitu : dua lubang mata, dua lubang telinga, dua lubang hidung, mulut, kemaluan , dan anus. Artinya, tidak maksiat kepada Alloh yang dalam maksud harus betul-betul khusu’ di dalam menjalankan ibadah kepada-Nya hingga pada akhirnya tidak ada yang di tuju kecuali Alloh Dzat Yang Maha Esa.

Dan inilah yang dinamakan NGAJI menurut falsafah Jawa, BOLONGAN SANGA DADI SIJI SUPAYA OLIH AJI SAKING ALLOH DZAT MAHA SIJI. Maksudnya, lubang sembilan jadi satu, yakni di tutup rapat-rapat sehingga tidak maksiat kepada Alloh supaya mendapat kelebihan dari Dzat Yang Maha Esa.
Jadi ringkasnya, macam huruf LAA ILAAHA ILLALLOHU MUCHAMMADUROSULULLOHI yang ada sembilan itu, adalah menuntut kepada dua masalah yang ada di dalam tujuan NGAJI, Yaitu:
  1. Bisa menutup lubang sembilan sehingga tidak maksiat kepada Alloh dan Rosul-Nya
  2. Bisa mengamalkan ilmu yang dihasilkan dari ngaji tersebut.
Artinya bisa mengamalkan ajaran-ajaran Nabi Muchammad SAW.
WALLOHU A’LAM.


Kalimah Toyyibah jumlah kalimahnya ada tujuh,yaitu :

1. Lafal  LAA
2. Lafal  ILAAHA
3. Lafal  ILLA
4. Lafal  ALLOHU
5. Lafal  MUCHAMMADU
6. Lafal  ROSUULU
7. Lafal  ALLOHI

Tujuh kata ini menunjukan bahwa orang islam adalah diperintahkan sujud kepada Alloh melalui tujuh tulang seperti keterangan hadist berikut :

“Aku di perintahkan sujud menggunakan tujuh tulang, yaitu jidat, dua telapak tangan, dua lutut, dua ujung tapak kaki. Aku tidak mau mensujudi kain dan rambut”. (H.R. Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas R.A.)

Maksudnya, tujuh kata di dalam kalimah Toyyibah itu menuntut pada sholat yang benar. Artinya, barang siapa ingin mendapatkan barokah (kebaikan-kebaikan yang senantiasa meningkat) dari Alloh melalui kalimah LAA ILAAHA ILLALLOHU MUCHAMMADUROSULULLOHI (ajaran islam) tersebut, maka ia harus mengerjakan sholat lima waktu yang sesui dengan ajaran syari’ah Nabi Muchammad SAW.



JUMLAH HURUF KALIMAH TOYYIBAH

Sebagaimana diketahui di atas bahwa jumlah huruf kalimah Toyyibah (LAA ILAAHA ILLALLOH MUCHAMMADUROSULULLOH) adalah 24 huruf, ini menunjukan bahwa yang sehari semalam adalah 24 jam. Artinya, siapa saja ynag mengaku dirinya sebagai umat islam, ia di tuntut untuk beribadah kepada Alloh bukan hanya mengerjakan sholat lima waktu, tetapi di perintahkan pula memperbanyak dzikir kepada-Nya dengan dzikir Jahar (jelas dengan lisan) atau dzikir Khofi (tersembunyi di dalam Quluub) supaya selamat dunia akheratnya  lantaran selalu memperbaharui imannya melalui cara senantiasa dzikir dengan LAA ILAAHA ILLALLOH MUCHAMMADUROSULULLOH sebagaimana dijelaskan dalam hadist berikut :

“Perbaharuilah iman kamu, yakni perbanyaklah ucapan LAA ILAAHA ILLALLOHU MUCHAMMADUROSULULLOHI” (H.R. Ahmad Hakim dari Abi Hurairoh)

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dia berkata:
“Malam dan siang jumlah waktunya ada 24 jam, kalimah LAA ILAAHA ILLALLOHU MUCHAMMADUROSULULLOHI jumlah hurufnya ada 24. Barang siapa benar-benar bias mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH MUCHAMMADUROSULULLOH, maka setiap satu huruf bias melebur dosa dalam masa satu jam, sehingga satu dosapun tidak akan tetap membahayakan kepada orang tersebut, itupun jika dia betul-betul mampu mengucapkannya setiap hari cukup satu kali”. (Kifayatul Atqiya hal. 109)

Maksudnya, jika orang islam sudah bisa menggunakan akhlak kalimah Toyyibah, maka setiap satu huruf dari 24 huruf itu, bisa melebur dosa dalam masa satu jam dengan izin Alloh. Oleh sebab itu marilah kita menggunakan akhlak kalimah LAA ILAAHA ILLALLOH MUCHAMMADUROSULULLOH di setiap hari siang dan malam, supaya 24 huruf tersebut menjadi wasilah terhapusnya dosa-dosa kita di dalam masa 24 Jam. Yakni waktu sehari semalam yang jumlah waktunya 24 Jam.

WALLOHU A’LAM.



HIKMAH GHOIBIYYAH

Belajar Mengenal Diri Sendiri

Berusaha mengenal diri sendiri memang tidaklah mudah, namun tidak ada kata menyerah untuk mencarinya. Begitu pentingnya persoalan ini, karena kalau kita gagal mengenal diri sendiri bukan tidak mungkin kita akan sulit menentukan arah hidup yang kita jalani ini. Dengan mengenal diri sendiri (ma’rifah binafsi) akan tahu kapasitas dan kempuan diri, hingga pada akhirnya kita akan mampu untuk menempatkan diri.

Banyak metode yang dapat kita jadikan referensi salah satunya  adalah metode yang dijalankan oleh pytagoras (560M), yaitu setiap menjelang tidur ia bertafakur mengingat apa yang ia lakukan sepanjang hari itu. Metode ini sebenarnya adalah metode yang diajarkan ole Nabi Ibrahim as. Yang dia pahami melalui pedoman enam puluh suchuf sebagai  ajaran umat Ibrahimiyyah sampai diutusnya Nabi Musa as.yang dibekali wahyu bentuk sepuluh suchuf hingga disempurnakannya ajaran tersebut dengan kitab Taurot.

Menurut sebuah pendapat untuk dapat ma’rifah binafsi (mengenal diri) adalah banyak melek (terjaga) pada malam hari. Tentunya untuk kegiatan positif, memperbanyak dzikir kepada Alloh, membaca al-qur’an, membaca buku (kitab), melakukan diskusi, riset (praktek keilmuan), dan lain sebagainya. Bersambung…



MUHASABAH

Terjemah Munfarijah Kubro (al-Ghozali)

  • Kesedihan telah menyatu dengan darah ya Tuhan, percepatlah kelapangan lalu kesedihan itu sirna.
  • Jiwa telah menjadi cengkeraman kesempitan, sumpek,dengan kuasa-Mu pelapangan kesempitan itu.
  • Hati kami tegerak berdo’a untuk memohon-Mu, bagai penanak  penanak menyalakan api, celaka dia bila tiada menyala.
  • Wahai yang Paduka biasa Maha Lembut, ulangi-ulangi biasa-Mu itu dengan kelembutan elok-Mu.
  • Tutup rapat-rapat kesumpekan dan kesedihan ini, bukakanlah segala yang menyumbat, bukalah lapang-Mu.
  • Kami kembali keharibaan-Mu, kami menuju kepada-Mu, semua jiwa ada pada ruang sentuh cahaya mentari-Mu.
  • Dan kepada anugerah-Mu ya Maha Muara Harapan. Oo.. alangkah sempitnya bila kami tak bisa kembali.
  • Siapa yang dirundung duka tidak memohon tolong-Mu, siapa yang dirundung nestapa tidak membisikkan pintanya kepada-Mu.
  • Dan kesalahan kami bila menjauhkan dari pintu-Mu hingga kami tidak datang memasuki.
  • Maka sungguh akan banyak nian pendurhaka berbuat dosa padahal harapan-Mu Paduka telah memperkenankan pendurhaka itu berharap (karunia) dari-Mu.
  • Wahai Junjungan kami, wahai Pencipta kami seutas urat telah menyempit di leher kami, tali yang menghubungkan kami dengan Paduka alangkah pendek.
  • Dan hamba-Mu tampak dalam penderitaan diantara ancaman penyebab penyakit (virus) dan kesedihan.
  • Segenap jiwa menggeliat dalam kepanasan dan mata air tenggelam didalam lubuk sangat dalam.
  • Nestapa bertambah keterlaluan hai nestapa, hendaknya kamu sudi menyibak.
  • Kami datangi Paduka dengan hati berkeping dan lisan yang gagap menyampaikan aduan.
  • Kami datang karena takut tergelincir dalam kengerian namun masih tercampur mencuatnya harapan.
  • Tak terbilang banyaknya orang yang dipenuhi lumuran dosa ingin sembuh berkat hamparan rahmat-Mu dan belaian desir angin wangi-Mu.
  • (Berapa kali saja kami menginginkan kesembuhan) dari yang menerpa kami dengan pengawasan-Mu dan disana ada tingkah laku perbuatan yang mengganggu.
  • Anugerah dari-Mu menyeluruh, meliputi segala, namuP paduka berkata “Berdo’alah kepada-Ku”, supaya kami menjadi suka cita.
  • Maka dengan wasilah semua Nabi, kami memohon ya Maha Raja Diraja dan dengan semua orang yang selamat.
  • Dan dengan keutamaan dzikir dan hikmahnya dan dengan segala jalan yang terang benderang.
  • Dan dengan rahasia huruf-huruf apabila sampai dan sinar cahaya yang cemerlang.  bersambung..



MAHABBAH

 ARTI CINTA

Salam…
Cintailah dirimu, sebelum engkau mencintai orang lain. Tiada cinta yang abadi, selain cinta seorang ibu terhadap anaknya. Cinta anak terhadap ibunya sepanjang galah, cinta ibu terhadap anaknya sepanjang jalan (tak berujung).

Cinta memang indah, bagaikan gunung dilihat kejauhan, akan tetapi bila didekati ternyata tebing, curam yang mengerikan, bila tidak hati-hati niscaya jatuh kedalam. Maka dari itu cintailah sewajarnya, karena ia belum tentu mencintai setulus hatinya.

Bila dirimu bercinta, hendaklah mencintai karena agama, bukan karena harta, pangkat kedudukan, atau karena cantik dan tampan, niscaya dirimu kan meraih kebahagiaan dunia dan akherat. Insya Alloh, amiin…

Cinta kadang bagaikan buah kedodong, yang terlihat halus diluarnya, tetapi setelah dirimu miliki dengan ikatan yang sah, ternyata hatinya berambut penuh duri, kalau sudah begini jangan pernah kau sesali tapi perbaiki biar tak makan hati, nanti ada yang merugi, karena sakit, dan akhirnya mati…Subhanalloh…..

Janganlah dirimu mencintai seseorang karena terpaksa, bila itu terjadi maka hidupmu akan tersiksa, maka cintailah dengan ketulusan hati, niscaya dirimu merasakan kehidupan yang hakiki, karena dengan ketulusan hati, akan menyelimuti kehidupan walau minimnya materi. Itulah cinta sejati, harta bisa dicari.

Cinta pertama orang mengatakan cinta monyet, karena cintanya pakai bahasa naluri, bukan bahasa mata hati, yang terlihat hanyalah keindahan semu, setelah melihat yang lain, ternyata jauh lebih baik, mulailah mata hati bicara, ternyata dunia tak selebar daun kelor, pantas sering terjadi patah hati. Maka jangan kau berikan cintamu sepenuh hati, sebelum kau tahu isi hatinya.
Cinta memang memabukan, bikin lupa diri. Tanamkan keyakinan mantap dihati, untuk selalu dijalan Illahi Robbi. Yaa robb.. kuatkan hati kami….

Cinta terkadang mengalahkan segalanya, sampai sholatpun kadang ditinggalkan, padahal mencintai Alloh tidak pernah dirugikan, bahkan diuntungkan, tapi mengapa terkalahkan? Ini adalah nyanyian setan yang mendendangkan cinta lebih utama, setelah putus cinta barulah mencari Tuhan, kendalikanlah wahai…teman, boleh bercinta tapi karena Tuhan Insya Alloh akan mendapat kemuliaan. Insya Alloh

Cinta terkadang dibenci tapi rindu, cinta terkadang diburu tapi cemburu, cinta kadang dicaci tapi dicumbu, cinta kadang dimaki tapi dirayu, jika sudah sehati segeralah kepenghulu. Biar tidak keburu nafsu…
Wassalam….